Prisa yang sejak tahun 2001 dikenal sebagai salah satu female rock guitarist ternyata baru berusia 20 tahun.. tepatnya kelahiran 6 Jan 1988 asal Padang (bokap Padang, nyokap Lampung/Palembang).
Salah
satu penyebab Prisa mulai tertarik dengan musik pada masa kecilnya
adalah karena adanya piano yang nganggur di rumahnya. Waktu itu Prisa
baru kelas 3 SD dan usianya juga baru 7 tahun, namun Prisa berusaha
untuk memainkannya walaupun kakinya belum bisa mencapai pedal piano
tersebut. Kebetulan suatu hari ketika teman kakaknya datang ke
rumahnya... Prisa kepergok sedang mencoba memainkan piano tersebut.
Tergerak hati teman kakaknya untuk mengajarkan sedikit basic tentang
permainan piano, waktu itu yang berusaha diajarkan adalah chord.
Di
luar dugaan teman kakaknya tersebut sempat kaget dengan cepatnya daya
tangkap Prisa terhadap pelajaran piano yang diberikan. Sejak itu teman
kakaknya tanggap jika Prisa memang berbakat musik dan menyarankan
orangtua Prisa untuk memberikan les piano kepada Prisa. Pada usia 8
tahun akhirnya Prisa diberikan les privat piano. Ternyata les privat
yang diberikan malah bukan piano, namun "electone" (sejenis piano). Les
privat electone tersebut berjalan sampai Prisa berusia 10 tahun. Prisa
kemudian mengembangkan permainan electonenya ke piano secara otodidak,
Prisa mencoba membawakan lagu "Entertainer" & "Fur Elize"
(Beethoven) versi dia sendiri.
Sesudah lulus SD Prisa masuk ke
Asrama Pelita Harapan (PH), di PH setiap pulang sekolah murid diwajibkan
mengambil salah satu les. Kemudian Prisa langsung memilih piano tanpa
ragu-ragu. Kebetulan teman sekamarnya mengambil les piano juga. Ternyata
permainan piano Prisa jauh lebih berkembang dibanding teman sekamarnya
itu, temannya pun sempat gusar dan kemudian pindah ke alat musik gitar
akustik. Guru Prisa sempat senang dengan perkembangan Prisa di permainan
pianonya. Namun Prisa pun merasa kehilangan teman main musik, ketika
dia melihat gitar temannya yang tergeletak di kamar tersebut... Prisa
pun menjadi penasaran dengan alat musik gitar tersebut dan kemudian
curi-curi main gitar tersebut.
Di suatu hari Prisa kepergok
temannya ketika sedang mencoba memainkan gitar tersebut, Prisa kemudian
dilarang oleh temannya itu agar tidak pernah lagi menyentuh gitarnya.
Akhirnya di detik itu juga Prisa bertekad belajar gitar
untuk menyaingi temannya yang galak tersebut. Waktu itu Prisa baru SMP
kelas 2, Prisa sangat displin belajar gitar mulai saat itu dan berhenti
memainkan piano. Prisa pun kemudian berusaha belajar sendiri melalui
buku-buku musik yang tersedia di toko buku, seperti MBS (Music Book
Selection). Dari situ Prisa memperlajari bentuk-bentuk chord gitar.
Proses
belajar gitar akustik tersebut hanya berlangsung sampai Prisa lulus SMP
berhubung sibuknya aktifitas Prisa di SMA 1, tepatnya akhir tahun 2001.
Prisa pun langsung melirik gitar elektrik yang menurutnya kelihatan
lebih keren. Akhirnya Prisa membeli gitar elektrik pertamanya yaitu
Fender Stratocaster mexico hasil patungan dengan orangtuanya untuk
mengejar cita-citanya tersebut.
Ketika Prisa beranjak 15 tahun
(sekitar tahun 2003), Prisa berusaha membentuk grup bandnya sendiri.
Waktu itu Prisa baru kelas 3 SMA dan sempat keluar-masuk di beberapa
band.. akhirnya Prisa berhasil membentuk band pertamanya, sebuah band
pop cewek bernama: Daijyobu. Di band ini Prisa berperan
sebagai gitaris dan vocalis. Tembang yang dibawakan pada saat itu
adalah "No Such Thing"nya John Mayer dan beberapa tembang dari
"Incubus".
Melihat bakat yang terus mengalir begitu saja, Prisa kemudian membuat sebuah band Rock'n'Roll + Punk Rock bernama "Morning Star".
Saat itu band ini khusus membawakan covernya Living End. Ide nama
Morning Star itu berasal dari artinya "Lucifer" (di kamus berarti:
Bintang Fajar). Band tersebut berpersonil 6 orang, Prisa memainkan gitar
akustik dan vokal.
Kesukaan Prisa mendengarkan musik metal
ternyata tidak berakhir begitu saja, pada tahun 2004 Prisa membentuk
band modern metal bernama Zala yang membawakan tembang-tembang yang hits pada saat itu seperti Killswitch Engage, God Forbid, As I Lay Dying, Avenged Sevenfold,
dll. Sejak adanya band inilah Prisa mulai mendapatkan sound distorsi
yang diidam-idamkan selama ini, diiringi perkembangan teknik bermain
gitar Prisa yang sangat pesat. Bersama band ini juga Prisa sempat
menulis beberapa lagu metal karya mereka sendiri. Nama Prisa cukup
dikenal di scene underground bersama Zala. Band ini cukup menyita
perhatian lantaran isi personelnya cewek semua. Tapi tidak hanya sekedar
menjual image saja, skill mereka juga tidak kalah sama band-band cowok.
Di tengah kesibukan bersama band Zala, Prisa menyempatkan diri untuk
menulis lagu popnya.
Tahun 2006 bisa dibilang sebagai tahun
emasnya Prisa dimana karirnya kian sukses. Pada akhir tahun 2005 Prisa
untuk pertama kalinya berkenalan dengan Mayzan (pemilik komunitas gitar Gitaris.com)
& Andreas Laratsemi (Clinician Audio Interior Musisi.com) di toko
Melodia Musik. Untuk pertama kalinya Mayzan bertemu dengan seorang
gitaris cewek yang mampu memainkan musik metal dengan sangat tegas dan
baik. Prisa kemudian diajak bergabung ke komunitas gitaris online: www.Gitaris.com,
di sana Prisa banyak mendapat teman baru dan belajar tentang permainan
guitar soloing beserta equipmentnya. Sebelumnya Prisa hanya menguasai
teknik ritem gitar. Kedatangan Prisa di komunitas ini juga mendapat
sambutan baik dari para member Gitaris.com karena minimnya gitaris cewek
di Indonesia. Atas saran Diaz (admin Gitaris.com) Prisa kemudian
terpilih sebagai model untuk design website Gitaris.com
di masa mendatang, disetujui oleh sebagian besar para member
Gitaris.com. Pemotretan pun akhirnya dilakukan pada bulan Februari 2006.
Tidak lama kemudian Prisa memperoleh gitar metal pertamanya
yaitu: Fender Telecaster Flathead Custom Shop (Slipknot Signature). Pada
bulan Maret 2006, band Zala mendapat kesempatan untuk tampil di acara
Java Jazz (JHCC - Senayan). Tidak lama kemudian Prisa juga tampil di
harian Kompas 23 April 2006 (mengenai Gitaris.com), disusul talk show di
Global TV bersama Mayzan juga mengenai Gitaris.com di bulan July 2006.
Selain
menjadi model Gitaris.com, ternyata Prisa juga cepat menjadi teman
akrab Mayzan karena persamaan dalam selera musik yaitu musik metal.
Persahabatan pun berlangsung dan Prisa sempat menjadi murid Mayzan
selama hampir 3 tahun. Prisa banyak memperoleh teknik shred soloing
seperti vibrato, arpeggio, alternate & sound guitar dari Mayzan,
seperti yang dapat kita saksikan di channel youtube Prisa membawakan
beberapa lagu Megadeth, Paul Gilbert & Marty Friedman.
Semangat Prisa bermain gitar makin menjadi-jadi sejak saat itu... jam
latihan bermain gitar Prisa pun makin meningkat. Mayzan akhirnya
menyadari bahwa kemampuan vokal dan song writing Prisa ternyata cukup
baik dan berbakat. Saat itu Prisa sempat kehilangan semangat &
hampir gantung gitar karena jenuh, namun karena dukungan dari Mayzan..
Prisa akhirnya bangkit lagi dan merekam beberapa demo lagu pop dan
metalnya di studio Mayzan.
Tidak lama kemudian Prisa membuat lagu pop pertamanya yang berjudul "Hancurkan Aku"
yang rencananya merupakan salah satu lagu di album pop mendatangnya.
Pada bulan Juni 2006 Prisa kemudian tergabung dalam band metal baru
bernama Dead Squad. Di band ini ia bermain dengan salah
satu gitaris dari keluarga Audi: Stevie Item, yang juga digawangi oleh
Bonny (ex-Tengkorak, ex-vessel) sebagai bassist dan Andyan (ex-Siksa
Kubur) sebagai drummer.
Pada suatu hari secara kebetulan Mayzan berkesempatan berkenalan dengan produser Denny Chasmala
karena Mayzan menjual sebuah efek mini Korg Pandora. Berbekalkan
penampilan dan begitu banyak bakat musik yang dimiliki Prisa, Mayzan
kemudian memperkenalkan permainan gitar Prisa kepada Denny Chasmala.
Kemudian Mayzan bersama Andre Harihandoyo juga memperkenalkan Prisa
kepada Eet Sjahranie (Edane), Eross (Shiela On 7) & Mudya (redaktur majalah Gitar Plus).
Di luar dugaan permainan gitar, kemampuan vokal, song writing dan
penampilan Prisa begitu menarik perhatian mereka. Prisa kemudian
kebanjiran job, pada bulan Juli Prisa mendapat kehormatan untuk
berkolaborasi dengan salah satu maestro gitar Indonesia, Eet Sjahranie
dalam penampilan band Edane di acara bergengsi PRJ membawakan tembang "Cry Out" dan "Kaulah Ibliz".
Selain itu ia juga tampil bersama Abdee Slank di sebuah klinik dan dikontrak selama 2 bulan sebagai additional gitaris dan backing vocal untuk 'band sejuta copy', Sheila On 7,
yang baru ditinggal salah satu gitarisnya. Selanjutnya Prisa juga
sempat tampil di SCTV dan TVRI bersama Shiela On 7 dan kemudian tour
selama 1 bulan dari Jawa Timur hingga Malaysia bersama Shiela on 7
(promo tour album 507). Di negara tetangga tersebut Prisa sempat
diwawancara oleh beberapa majalah dan stasion televisi terkemuka dan
bermain di depan anak raja Malaysia.
Band metal (Zala) yang
dibentuk Prisa terpaksa divakumkan karena jadwal manggung yang sudah
sangat padat. Prisa akhirnya memutuskan untuk berhenti dari dunia
pendidikan akademis dan memilih untuk terjun sebagai musisi profesional.
Sepulang dari Malaysia, project solo album Prisa langsung digarap oleh
produser ternama Denny Chasmala yang rencananya akan dirilis melalui
label Aquarius. Di tengah kesibukan rekaman tersebut Prisa juga sempat
menjadi cover majalah Gitar Plus edisi 07/2006, menjadi cover majalah
HAI edisi "Sekarang Giliran Anak Metal" dan tampil di majalah MTV Trax
edisi 11/2006 di column GirlDoYouRock.
Pada bulan Sept 2006, Prisa juga menjadi demonstran untuk produk kabel bergengsi: Analysis Plus selama 4 hari berturut-turut bersama Irvan Askobar
di Balai Kartini (Pameran Audio Hi-End: CHEX) sebagai penyanyi dan
gitaris. Pada akhir tahun 2006 Prisa juga tampil bersama Mayzan
membawakan karya Marty Friedman (Elixir) di sebuah acara gathering akbar Gitaris.com di Pondok Indah.
Atas dukungan Mayzan pula pada bulan Juli 2007 Prisa akhirnya diendorse oleh pihak Jackson Guitars.
Ia dikontrak untuk menggunakan gitar Jackson DKMG Arch Top. Sebuah
gebrakan yang sangat fenomenal mengingat ia adalah gitaris Indonesia
pertama yang diendorse oleh Jackson.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar