Minggu, 10 Juni 2012

Resonansi [menggemakan suara]

bbking
Lanjut lagi dari pembahasan kita sebelumnya tentang Pembentukan Suara. Kali ini saya akan menjelaskan sedikit tentang Resonansi. Disekolah pernah belajar kan dulu?. Resonansi adalah seuatu upaya untuk membuat suara bergema / bergaung indah, bukan hanya sekedar kuat atau keras seperti berteriak. Atau dengan kata lain, bagaimana memperluas wilayah bunyi yang ditimbulkan getaran.
Gema itu harus terdengar indah dan teratur, sehingga apa yang kita ucapkan dapat dimengerti oleh pendengar.
Kita contohkan aja dengan:
a. Garpu tala yang yang dipukulkan dan yang dipegang saja, akan lebih luas wilayah bunyinya jika setelah dipukulkan ditempelkan di atas meja yang menjadi ruang gema dari getaran garpu tala tersebut.
b. Tali gitar yang dipetik dengan bantuan tongkat kayu akan lebih besar / luas wilayah bunyinya jika dipetik diatas badan gitar sendir, karena kotak / badannya itulah yang menjadi ruang gemanya.
c. Bertepuk tangan dengan membungkukkan kedua telapak tangan, akan lebih luas wilayah bunyinya dibanding jika kedua telapak tangan itu rata atau sejajar. Karena lengkungan telapak tangan telah menjadi ruang gema.
Nah.. Didalam menggemakan suara, seluruh alat-alat artikulasi seperti tersebut diatas menjadi alat-alat resonansi, namun terpusat pada tenggorokan dan mulut / rongga mulut, yang selalu harus diperluas dan senantiasa terbuka luas sepanjang penyanyian.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperluas ruang resonansi anntara lain:
a. Bersenandung mmmmm, dengan memperhatikan:
- bibir sisi luar dikatupkan ringan, tidak menjepit.
- gigi atas dan bawah tidak di rapatkan.
- lidah diletakkan rata dan ujung lidah menyentuh gigi bawah.
- rahang bawah di jatuh santai dan ringan.
- rongga mulut dan tenggorokan harus dibuka seluas mungkin seperti gaya sedang menguap.
b. dengan berfantasi, atau membayangkan “bagaimana membuat sesuatu gerak
imitasi” jika kita sedang memakan buah yang harum dan airnya banyak (wuih,, Uenak banget… ). Bayangin aja seolah2 kamu mang lagi makan itu. ( jadi mau makan yang beneran neh ).
c. meniru gaya binatang buas yang sedang mengaum menghadapi mangsanya.
Sedikit lebih rumit untuk melatihnya, karena mungkin sulit menutup mulut dan meluaskan rongga dalam mulut.
Dengan latihan yang tekun pasti dapat meningkatkan resonansi untuk mendapatkan wilayah bunyi yang lebih luas, walaupun pada saat lagu dinyanyikan lembut atau keras

Pemanasan Sebelum Manggung

vokal adalah instrumen yang sangat unik, dan instrumen vokal bukan cuma pita suara kamu aja, tapi termasuk diafragma, lidah, juga resonance bodynya adalah muka.
hati2 memperlakukan vokal kamu. suara metal boleh2 aja asal kita sadar betul bahwa itu hanyalah efek. banyak penyanyi rock yang harus operasi karena timbul nodal di tenggorokannya.
nodal adalah daging yang tumbuh akibat resistance terhadap paksaan. jadi kalo lo nyanyi dipaksa terus-menerus, bisa tumbuh nodal.
jadi pemanasan itu penting, bukan biar suara lo bagus aja, tapi buat keselamatan vokal lo. karena vokal lo adalah asset yang sangat berharga pemberian Tuhan.
cara pemanasan yang simple, nyanyi aja pelan2 major scale (do re mi dst.) naik turun. atau hanya naik ke 5th (sol) turun lagi. jangan pernah paksain sampe tinggi2, nanti kalo suara udah panas, rangenya otomatis bakal nambah sendiri kok.
untuk pemanasan diafragma, nyanyi do re mi re do, dengan “HO” jadi ho ho ho ho ho dan rasakan bagaimana diafragma  lo memberi penekanan untuk power

- terganggunya keindahan lagu.
- pengertian syair menjadi kabur.

So,, Bagaimana Ngatasinnya???
Sebelumnya kita udah bahas mengenai Vocal dan Konsonan, dan cara-cara pengucapan sebuah kata / kalimat lagu. Suku kata atau kata, jika pada saat membaca atau berbicara, memiliki aksen aksen tertentu dan tekanan pada bagian-bagian tertentu. Maka pada saat bernyanyi, tekanan/aksen tersebut harus mengacu kepada melodi lagu
Pada saat memulai kalimat lagu, yang menjadi perhatian kita adalah “huruf” apa yang pertama diucapkan, sehingga penyanyi dapat mempersiapkan ‘ucapannya”sesuai dengan cara pengucapan masing masing huruf. Karena jika tidak demikian, ucapan itu menjadi tidak jelas, karena terburu-buru untuk mengucapkannya
Harus diperhatikan beberapa konsonan, yang jika diucapkan akan mengakibatkan pemborosan pada “nafas” misalnya konsonan [H] dan konsonan [S]. Jika kedua konsonan ini ada pada saat awal lagu, upayakan segera menutupnya dengan “vocal” yang mengikutinya. Demikian juga jika kedua konsonan ini ada ditengah kalimat lagu, akan lebih merepotkan karena tujuan kita untuk menyambung kalimat lagu menjadi terganggu.
Jika pada awal lagu dimulai dengan huruf “VOCAL”, misalnya INDONESIA RAYA dsb, Harus diupayakan agar “vocal” ini diawali dengan konsonan tertentu, misalnya dengan konsonan [M, N atau H] agar tidak terkesan meledak pada saat mengucapkannya.
Memberikan perhatian khusus pada pengucapan beberapa konsonan yang hampir sama, antara lain:
a. antara M dan N serta NG
b. antara G dan K
c. antara T dan D
d. antara B dan P, yang hanya dibedakan oleh besar kecilnya ledakan yang dicipyakan pada saat mengucapkaannya.

Menyambung kata dan suku kata, menjadi satu kesatuan yang diucapkan denga mengalir, khususnya jika terdapat dua konsonan sejajar atau berdekatan. Jangan sampai salah satunya tertinggal atau tidak terucapkan.
Bila satu kata ditutup dengan huruf nasal/sengau, maka sebaiknya konsonan sengau tersebut diucapkan secara singkat pada saat akan mengakhiri kalimat, atau sejenak menjelang awal istirahat berikutnya. Dengan kata lain, penahanan bunyi diberikan pada vocal yang mendahuluinya.
Berhati-hati lah dengan konsonan semu, yang timbul pada saat memulai kalimat atau mengakhiri kalimat yang disebabkan oleh beberapa faktor, agar dihindari dengan baik. Misalnya pada pengucapan :
a. besok menjadi mbesok
b. sebab menjadi sebabh

Konsonan R, M, N, dan NG serta beberapa konsonan lainnya yang menutup kata, sering tidak terdengar diucapkan, khususnya pada ending lagu. Jangan menutup bunyi sebelum konsonan ini terucapkan dengan benar.  Misalnya :
- dengan menjadi denga
- lahir menjadi lahi
- bersyukur menjadi bersyuku
dst

Adanya huruf dipotong atau umlaud, yaitu dua buah vocal yang berdekatan, misalnya : AU-OE UI-AI dst, seharusnya tidak dipisahkan mengucapkannya. Akan tetapi harus disambung dan ditekan/aksen diberikan pada vocal pertama, sedangkan vocal berikutnya hanya melintas saja, yang ditandai dengan pergeseran alat artikulasi pada saat mengucapkannya.
Vocal yang dinyanyikan dengan beberapa notasi yang biasa disebut “legato” harus dijaga agar keutuhan & keberadaan setiap nada tetap terdengar dengan jelas. Untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan menambahkan konsonan “H” secara samar-samar (tidak terdengar keluar) pada setiap perpindahan nada atau n. gimana, dah jelas? ato penyampaiannya kurang mengena? coba dulu deh, ntar tanyain aja sama aku mana yang kurang jelas, insyaAlloh aku akan jawab, ok !

3. Menyadari bahwa susunan nada-nada yang ditulis untuk dinyanyikan adalah suatu kesatuan, artinya tidak terpenggal-penggal dari sudut susunan melodinya.

Ketiga unsur diatas dipadu menjadi satu, untuk dapat menampilkan : “Bagaimana membaca kalimat tanpa lagu dan Bagaimana menyanyikan kalimat lagu tanpa teks”
a. Kalimat bahasa.
Untuk menghayati isi kata-kata, perlu juga dipedomani aturan “TATA BAHASA” yang kita miliki untuk mencari :
1. Mana kelompok kata yang merupakan satu kesatuan, yaitu: -bahwa setiap pemenggalan kalimat harus mengandung arti yang sebenarnya dan disesuaikan dengan melodi dan irama.
2. Mana kata pokok/thema yang perlu penegasan/penonjolan dan diucapkan
lebih keras kemudian diberi tanda dinamika.
3. Pada bagian kata mana aksen harus dimunculkan atau ditonjolkan.

b. Kalimat musik.
Kalimat musik terdiri dari “nada-nada” yang merupakan “motif” atau “thema” yang mengungkapkan suatu ide musik, misalnya:
1. Kelompok nada: yaitu dimana ditemukan beberapa nada yang berulang dinyanyikan.
2. Puncak lagu : yang biasanya selalu terdapat pada nada tertinggi pada sebuah lagu.
3. Tekanan nada : yang didalam musik ditentukan oleh irama, dan biasanya terdapat disetiap awal birama.

c. Kalimat yang dinyanyikan.
Biasanya terdapat dua bentuk kalimat yang dinyanyikan, yaitu:
1. Nyanyian Recitative : yaitu dimana pernan kata-kata lebih menonjol dibanding dengan peranan melodi.
2. Nyanyian Melismatis: peranan melodi lebih menonjol dari pada melodi, dan terdapat satu kata yang dinyanyikan dengan serangkaian nada.

Menyanyikan kalimat lagu dengan utuh, tidaklah sesederhana “membaca kalimat” karena disamping pemahaman arti kalimat yang harus diucapkan dengan sejelas mungkin karena gangguan-gangguan lain akan timbul pada saat bernyanyi, karena adanya tanda-tanda dinamika dan lain-lain yang harus dikerjakan bersamaan dengan pemenggalan kalimat, antara lain:
- Ketidak mahiran dalam pengambilan dan penggunaan nafas selama bernyanyi.
- Adanya istilah-istilah musik yang mendukung sebuah karya pada saat diciptakan, seperti:
1. Legato, yang biasanya menimbulkan pemborosan dalam hal pernafasan
2. Deoresendo dan Oresendo, yang memaksa penyanyi untuk memperluas dan mempersempit wilayah bunyi pada saat penyanyian dilaksanakan.
3. Staccato, pemenggalan suku kata karena tuntutan melodi yang tidak dikuasai, tanpa menghilangkan keutuhan kalimat ssecaara keseluruhan.
4. Accelerando dan Rittardando, percepatan dan perlambatan tempo pada  pada satu penggalan kalimat , serta pada puncak nada tertinggi atau  terendah yang berbanding terbalik dengan pernafasan dan persiapan nafas yang masih tersisa untuk digunakan.

Dari beberapa tantangan dan hambatan yang ada, maka untuk mendapatkan “frasering” yang baik dan utuh. Keseluruhan aspek/tahapan diatas harus benar-benar dilatih lebih dahulu kemudian diterapkan “sepanjang nyanyian” sehingga tujuan “BAGAIMANA MEMBUAT KALIMAT LAGU, MEMBERI ARTI, dan MAKNA, akan tercapai dengan baik.
Jadi intinya seperti ini, sebelum menyanyikan sebuah lagu ada baiknya kita tulis dulu liriknya dan kemudian kita perhatikan dimana tempat tempat untuk mengambil nafas dan dimana huruf-huruf yang boros dengan nafas. Minimal pemenggalan kata untuk menarik nafas adalah 2 bar. Contohnya seperti ini : kamu pernah dengar kan lagunya Kerispatih ( Tapi Bukan Aku ). Lirik pertama, “Jangan lagi… kausesalai… keputusanku”. Sesimpel yang kamu dengar itu ada dua kali pemenggalan. Tapi itu salah, kamu harus menyanyikan keseluruhannya dalam satu nafas. Namun untuk pemula dapat dipenggal menjadi dua nafas” Jangan lagi….- Kausesali… Keputusanku… ” atau “Jangan lagi… Kausesali… keputusanku…” . Kemudian kita juga harus paham bahwa ada satu kalimat atau kata yang g boleh terpotong sama sekali. Coba perhatikan bagian kedua ” Khianati rasa… Demi kei..nginan semu..” Nah bagian kalimat “Demi keinginan semu” itu sama sekali tidak boleh ada penarikan nafas dan tidak boleh terpenggal karena ” keinginan” adalah satu kata. klo terpisah maka kata itu  g akan mempunyai arti.

Demikian deh buat kita pahami, makanya klo seorang penyani itu mempunyai buku lirik lagu bukan hanya karena dia g hafal, tapi karena Setiap lagu memang harus dipelajari baik-baik kalimatnya. Juga dari situ kita bisa paham dengan arti dan makna dari lagu tersebuat sehingga bisa menjiwai lagunya.

olah


Yaitu pada saat mengambil / menarik nafas, dilakukan dengan mengangkat bahu untuk mengisi paru-paru. Cara seperti ini tidak begitu baik, karena nafas yang dihasilkan dangkal dan mengakibatkan kalimat jadi terputus-putus.

~ *2. Pernafasan Dada
Yaitu dengan membusungkan dada pada saat menarik nafas untuk mengisi paru-paru. Cara seperti ini juga tidak begitu baik, karena jadi terkesan cepat lelah dan akibatnya suara jadi tidak stabil dan terputus-putus.

~ *3. Pernapasan Diafragma
Lazim kita sebut dengan pernafasan rongga perut. Yaitu menarik / mengambil nafas untuk mengisi paru-paru dengan mengembangkan rongga perut atau diafragma, serta mengembangkan tulang rusuk. Cara inilah yang terbaik yang dilakukan untuk bernyanyi, karena akan menghasilkan nafas yang panjang, ringan, santai dan produksi suara lebih bermutu.

Dengan pernafasan diafargma penyanyi dapat leluasa dalam berekspresi karena tidak ada tekanan dan desakan dalam pernafasan.
***Cara melatih pernapasan dalam menyanyi

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melatih pernafasan ini, khususnyamelatih “DIAFRAGMA” penyanyi, antara lain:
~ *a. Dengan berdiri santai, badan lurus, sambil meletakkan ujung jempol jari di ujung tulang rusuk terbawah. Tariklah nafas melalui hidung dengan cara perlahan atau dengan cepat, dan rasakan bahwa jempol kamu tadi terdorong kesebelah luar, sebagai reaksi dari melonggarnya tulang iga.
Jika telah terasa penuh, kemudian nafas tadi dikeluarkan dalam bentuk senandung vocal “a” atau konsonan “s” ataupun dengan hitungan. Yang jelas bukan dengan cara mendorong, tapi mengeluarkan nafas sehemat mungkin.
Lakukan minimal 20x setiap hari atau setiap ada kesempatan buat latihan. Ini akan membuat otot-otot perut kamu menjadi semakin kokoh dan kuat.

~ *b. Dengan posisi tidur terlentang lurus dan kedua tangan diletakkan sejajar dengan tubuh. Letakkan beberapa benda seperti buku diatas perut sebagai beban dan tariklah nafas seperti bagian “a” diatas serta rasakan bahwa beban diatas perut terangkat keatas, juga rasakan tulang rusuk ikut mendorongnya.
Jika telah terasa penuh, keluarkan lagi seperti yang “a” tadi dan lakukan minimal 20x sehari ato tambahan kapan aja kamu punya waktu buat latihan.
Latihan ini bisa membuat otot perut menjadi kokoh serta kita pun jadi santai untuk mengucapkan kalimat. Selain itu juga dapat merubah kebiasaan bernafas yang dilakukan dengan mengangkat bahu atau membusungkan dada.
Ada juga cara buat nguatin otot perut yaitu dengan tertawa terbahak bahak , sampai terasa klo perut tergoncang goncang. Tapi klo latihan ini harus dilakukan dengan sangat hati hati, karena nanti bisa dibilang orang gila (hehehe)

Pengambilan nafas pada saat memulai lagu atau awal kalimat lagu dapat dilakukan dengan menarik nafas melalui hidung dengan santai. Namun jika pada saat bernyanyi atau ditengah lagu sebaiknya dilakukan dengan singkat atau dengan mendengkus, seperti kita nyium aroma yang harum atau aroma makanan.
Pada pernafasan yang demikian, kita hanya mengembangkan pernafasan “alami” yang kita miliki, akan tetapi jika pernafasan alami “naik turunnya sama” sedangkan penyanyian itu “ menarik nafas dengan cepat dan mengeluarkannya dengan sehemat mungkin” karena tujuan utama kita adalah menyelesaikan satu kalimat dalam satu tarikan nafas. Dengan demikian kalimat yang kita ucapkan /nyanyikan kedengaran indah dan bermutu, tidak tersendat-sendat.

tips


ambil napas pelan-pelan, lalu hembuskan. Diulang terus dengan teratur.
Bisa juga pada saat menghembuskan badan kamu bungkukkan badan (kayak posisi rukuk waktu sholat, tapi kepala nggak lihat ke depan, tapi ke bawah (bahkan agak ngeliat ke belakang lewat kolong kedua kaki), juntaikan tangan ke bawah. Digoyangkan biar relax. (posisi kedua telapak kaki lurus ke depan dengan jarak sejengkal di antara keduanya.
Lalu perlahan-lahan naik, angkat badan kamu, tapi tumpu kekuatan lewat punggung. Jadi kamu akan ngerasa kalau tulang belakang kamu itu perlahan-lahan naik ke atas ngikutin badanmu yang ikut tegak. Selama proses itu kamu bernapas dengan teratur. (Kalau ada temanmu, dia bisa memijat punggung sembari badanmu naik menuju posisi tegak.

Itu sangat membantu proses relaksasi.
~ *2. Latih bagian rahang dengan huruf-huruf vokal dan konsonan. Ingat, rahang harus relaks.

A I U E O

latihan diafraghma:
huruf K-Ch-K-ch-sssst-th. dengan tempo cepat.
ho-ho-ho…ha-ha-ha

Lalu latihan wilayah nasal (hidung):
“nya-nya-nya” dengan benar-benar menekankan suara cempreng dari hidung.

Lalu latihan bibir
nyanyikan tangga nada dengan bibir terkatup jadi bunyinya bakal
“brrrrr-brrrr-brrr-brrr”
nyanyikan tangga nada, arpeggio, secara staccato (patah) maupun legato.

Latihan lidah
“La-la-la. ra ra ra, tatata.”

(biar ga bosen bisa sekalian latih semuanya pakai tangga nada, arpeggio.)
~ *3. Setelah sudah relaks, kamu baru boleh nyanyi.
Ketika nyanyi, harus konsentrasi dengan target nada. Napas harus teratur dan kontrol power dengan baik.

fals

Menghindari Fals Ketika Bernyanyi

Lakukanlah latihan bernyanyi dengan menutup salah satu telinga, bisa telinga kiri atau kanan. Dengan menutup salah satu telinga ketika bernyanyi, kita bisa lebih jelas mendengar output vocal kita. So, kita bisa lebih mudah mengontrol nada yang kita keluarkan.
Cara ini bisa juga dilakukan ketika kita sedang bernyanyi di atas panggung. Di tengah bingarnya iringan musik, terkadang kita sulit mengontrol nada. Nah, dengan menutup salah satu telinga, vocal kita akan lebih terkontrol. Tapi, untuk menjaga performance, sebaiknya cara ini dilakukan ketika diperlukan saja. Jangan terlalu sering, cukup ketika kita betul betul sangat sulit mengontrol nada atau ketika kita akan menjangkau nada-nada yang beresiko.